Posted by: ocha_roza | 28th Mar, 2018

Pengantar Praktikum S2

Praktikum lapang 2018

alat-bantu-penangkapan-ikan-rumpon-pusluh-kkp-go-id-768x512Keberadaan rumpon di seluruh Indonesia tidak akan mendapat tolerasi lagi dari Pemerintah. Dengan tegas, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan akan membersihkan seluruh rumpon yang sudah ada di bawah perairan di seluruh daerah.

Diterapkannya kebijakan tersebut, tak lain karena rumpon dinilai bukan sebagai sarana untuk menangkap ikan yang baik. Dengan kata lain, keberadaan rumpon dinilai bisa merusak ekologi perairan setempat dan itu bisa mengancam keberadaan ikan-ikan.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyikapi semakin maraknya pengusaha dan nelayan yang menggunakan rumpon untuk menangkap ikan. Menurut dia, rumpon tidak akan diberi tempat lagi di perairan Indonesia.

“Rumpon, apapun nama dan bentuknya, itu adalah mengganggu. Selain itu, rumpon juga ilegal, karena Pemerintah tidak pernah mengeluarkan izin dalam bentuk apapun,” ungkap dia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Meski Susi tidak menampik ada rumpon yang sudah lama berada di bawah perairan Indonesia, namun dia tidak akan membiarkannya untuk tetap ada. Pasalnya, jika terus dibiarkan, keberadaan rumpon bisa menurunkan kualiats lingkungan hidup di sekitar perairan tersebut.

“Jadi jelas kalau rumpon itu harus dibasmi sampai habis,” ucap dia.

Karena rumpon dilarang, Susi memastikan bahwa tidak ada izin yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat ataupun daerah. Hal itu, karena izin rumpon itu hanya diterbitkan oleh Pemerintah Pusat. Jika di daerah ada rumpon dengan izin Pemerintah Daerah, itu bisa dipastikan adalah rumpon ilegal.

“Kita perlu dukungan semua pihak untuk menertibkan keberadaan rumpon ini. Karena, tidak semua bisa kita pantau. Jika ada yang tahu di daerah ada rumpon yang berizin pemda setempat, laporkan ke kami. Itu ilegal,” jelas dia.

Berkaitan dengan rumpon di daerah tersebut, Susi mendapat laporan ada rumpon liar di sekitar Laut Seram, Maluku. Keberadaan rumpon tersebut, dipastikan akan ditertibkan karena itu tidak berizin dan bisa merusak ekologi perairan setempat.

“Satgas 115 juga kini akan mendalami kasus rumpon di Laut Seram yang diduga kuat berjumlah banyak dan dimiliki perusahaan besar,” katanya.

Menurut Susi, semakin banyak rumpon yang dipasang di perairan Indonesia, maka itu akan berpotensi mengalihkan pergerakan tuna ke dalam kawasan perairan nasional. Jika itu dibiarkan, maka itu dinilai bisa merugikan nelayan kecil dan tradisional.

Susi menyebut, selain di Laut Seram, perairan yang saat ini diketahui terdapat banyak rumpon, adalah di sekitar perairan Nusa Tenggara Timur (NTT), Teluk Tomini (Sulawesi Tengah) dan Bitung (Sulawesi Utara).

“Di sana, tangkapan nelayan tradisional sebagian besar hanya malalugis yang dikenal sebagai ikan umpan untuk tuna. Padahal potensi tangkapan di sekitar Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik sangat besar karena merupakan habitat tuna dan ikan pelagis besar lainnya,” tutur dia.

 

rumpon-aquatec-co-id

 

 

 

 

 

 

 

Menurut Susi, ikan-ikan seperti tuna dan pelagis besar lain biasanya hidup bergerombol di dalam perairan, namun kemudian terhadang rumpon dan akhirnya hanya berputar-putar di sekitar rumpon saja. Dia yakin, jika rumpon tidak ada, ikan akan mendekat ke pesisir.

Apa Itu Rumpon?

Dilansir berbagai sumber literasi, rumpon adalah jenis alat bantu penangkapan ikan yang biasanya dipasang di bawah laut, baik perairan dangkal maupun dalam. Tujuan pemasangan rumpon, adalah untuk menarik sekumpulan ikan yang ada dan berdiam di sekitar rumpon. Setelah terkumpul, ikan-ikan tersebut biasanya akan ditangkap.

Rumpon yang dikenal dewasa ini, tidak lain adalah karang buatan yang sengaja dibuat oleh nelayan atau pengusaha perikanan. Agar ikan bisa datang lebih banyak, biasanya rumpon juga terdiri dari berbagai jenis barang lain seperti ban, dahan dan ranting pohon.

Agar barang-barang tersebut bisa tetap berada di bawah air, biasanya akan disertai dengan alat pemberat berupa beton, bebatuan, dan alat pemberat lain. Supaya posisi rumpon bisa aman di tempat semula, biasanya alat pemberat akan ditambah lagi jika memang diperlukan.

Meski rumpon adalah karang buatan yang berfungsi sebagai rumah ikan yang baru, namun pembuatannya biasanya dilakukan sealami mungkin mendekati rupa asli dari karang alami. Rumpon yang sudah ditanam tersebut, kemudian akan diberi tanda oleh pemiliknya, sehingga memudahkan mengidentifikasi jika sedang berada di atasnya.

rumpon-dari-kapi-kkp-go-id

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di Indonesia, sebagian besar rumpon yang ditanam terdiri dari tiga jenis:

  • Rumpon perairan d Ini adalah rumpon yang biasanya dipasang di dasar suatu perairan;
  • Rumpon perairan d Ini adalah rumpon yang dipasang di perairan yang memiliki kedalaman hingga 200 meter;
  • Rumpon perairan d Ini adalah rumpon yang dipasang pada perairan kedalaman lebih dari 200 meter

.

Rumpon Itu Merugikan?

Sebelum Susi mengeluarkan kebijakan pada awal 2017, menteri asal Pangandaran, Jawa Barat itu juga sudah mengeluarkan pernyataan serupa pada medio 2016 di Institut Pertanian Bogor (IPB). Tetapi, di kampus tersebut, Susi mendapat penolakan argumen dari pengajar Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan IPB, Roza Yusiandayani.

Menurut Roza, kebijakan pelarangan rumpon di tengah laut yang diterapkan KKP harusnya bisa dipertimbangkan kembali. Hal itu, karena penanaman rumpon banyak memberi manfaat ekonomi bagi nelayan tradisional.

“Saya sudah 25 tahun melakukan penelitian, selain itu saya juga baca di berbagai jurnal ilmiah. Jadi, saya tidak sepakat jika rumpon harus dimusnahkan,” ujar dia.

Seusai diskusi, Roza menjelaskan, rumpon yang ada saat ini sudah meningkatkan pendapatan tangkapan ikan bagi nelayan. Tak tanggung-tanggung, dia menyebut peningkatannya bisa mencapai 40 persen lebih. Jika dirupiahkan, per kapal bisa mendapatkan penghasilan rerata Rp10-60 juta dan itu bisa membantu perekonomian nelayan.

Berkaitan dengan pernyataan Susi yang menyebut rumpon itu dilarang, Roza memaparkan fakta bahwa rumpon sudah diatur dalam SK Mentan nomor 51/KPTS/Ik.250/1/97. Dalam SK tersebut, rumpon diakui sebagai alat bantu penangkapan ikan yang dipasang didasar laut.

“Di Bengkulu, ada rumpon yang dipasang dan itu punya orang Jakarta. Namun, nelayan setempat bisa memanfaatkannya karena bisa mencari ikan di sekitar rumpon tersebut. Rumpon bisa menjamin kelangsungan hidup ikan dengan ukuran 100 sentimeter,” jelas dia.

Karena ada manfaat yang dirasakan, Roza meminta Susi untuk mempertimbangkan kebijakan pelarangan rumpon di seluruh wilayah perairan Indonesia. Kata dia, jika memang pelarangan akan diberlakukan, maka itu lebih tepat diterapkan kepada rumpon yang dimiliki investor asing.

“Kalau mau dimusnahkan, ya rumpon punya asing saja. Kalau rumpon punya nelayan lokal, sebaiknya jangan ya. Itu bermanfaat banyak,” pungkas dia.

Posted by: ocha_roza | 20th Feb, 2018

Ini Alasan Roza, Dosen Wanita IPB yang Tak Takut Melaut

roza-yusfiyandayani_20171020_140836

 

 

 

 

 

Indonesia memiliki lautan yang luasnya melebihi daratan.

Selama ini melaut hanya jadi milik nelayan yang kebanyakan pria.

Bagi wanita, melaut jadi pekerjaan yang menakutkan.

Tapi tidak dengan Dr Roza Yusfiyandayani, sosok perempuan tangguh yang saat ini tercatat sebagai Dosen Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB).

Sikapnya yang ulet dalam meneliti dan pemberani mengantarkan namanya sebagai pencetus inovasi “Rumpon Portable”.

Rumpon portable merupakan pengembangan dari rumpon konvensional yang menggunakan konsep respon ikan terkait penggunaan frekuensi suara dan tali rafia pada atraktor.

Alat bantu penangkapan ini dapat dioperasikan di perairan yang diinginkan oleh nelayan.

Rumpon ini terdiri atas pelampung yang merupakan box penyimpanan rumpon itu sendiri, tali, atraktor dan juga alat penghasil gelombang suara.

Dengan rumpon, nelayan tidak terlalu susah payah menentukan daerah penangkapan ikan, karena secara otomatis akan berkumpul di sekitaran rumpon.

Roza bisa dikatakan pemberani, karena untuk mengambil fokus di bidang teknologi alat tangkap harus turun langsung ke tengah lautan. Karakter keberanian inilah yang juga ditularkan kepada setiap mahasiswa didik terutama mahasiswa bimbingan skripsinya.

Dengan karakter ulet dan berani, Roza pun tidak menghilangkan sifat keibuannya.

Dalam mendidik mahasiswanya dia selalu tegas dan bersahabat, sehingga tak jarang mahasiswa yang memintanya untuk menjadi pembimbing, baik pembimbing skripsi maupun untuk lomba-lomba.

Sebagai contoh, di tahun 2017 ini Roza berhasil mengantarkan mahasiswa bimbingannya lolos Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 30 di Makassar.

Selain itu, sebelumnya ia pernah juga mengantarkan mahasiswanya yang bernama Saeful Mubarok sebagai peraih medali perak di kompetisi internasional tentang teknologi perikanan di Malaysia.

“Untuk para pemuda Indonesia, jangan takut kembali ke laut. Karena Indonesia negara maritim,” ujarnya dalam siaran pers Humas IPB.(*)

Posted by: ocha_roza | 20th Feb, 2018

Dosen IPB Bahas Rumpon Teknologi Untuk Nelayan Kecil

rumpon

novasi penangkapan ikan yang ramah lingkungan semakin gencar. Mulai dari seleksi terhadap spesies ikan maupun alat tangkapnya. Rumpon salah satu alat pengumpul ikan yang biasa digunakan nelayan.

Bahkan ke depannya, nelayan tidak akan kesulitan ketika menangkap ikan. Para peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB) telah menciptakan teknologi penangkapan ikan baru yaitu rumpon elektronik.

Kebanyakan rumpon bersifat pasif dan menetap. Misalnya rumpon yang dibuat dari pelepah pohon kelapa atau rongsokan beca yang ditenggelamkan. Jenis rumpon tradisional ini umumnya menggunakan satu jenis atraktor tertentu dan cenderung memiliki selektivitas target yang rendah atau hasil tangkapan sampingan (by-catch) yang tinggi.

Dengan demikian rumpon ini tidak mampu melakukan pemilahan target yang diinginkan dari sisi jenis dan ukuran ikan. Di samping itu, daya tahan rumpon tradisional terbatas, misalnya daun kelapa yang ditempatkan di laut akan cepat lapuk dan terbawa oleh arus laut.

“Nah, rumpon yang kami ciptakan ini adalah rumpon elektronik, di mana kami mencoba memasukkan teknologi elektronika yang sifatnya aktif yang berfungsi untuk mengumpulkan ikan di suatu perairan,” kata Prof Indra Jaya yang ikut serta dalam pembuatan rumpon elektronik ini.

Pembuatan rumpon ini diawali oleh keprihatinan kalangan akademisi mengenai kondisi perikanan tangkap di Indonesia. Pasalnya, alat tangkap purse seine yang berkembang pesat di Samudera Hindia bagian timur yang dioperasikan pada drifting aggregating device yang mampu menangkap ikan-ikan tuna berukuran kecil yang belum matang gonad.

Terdapat pro dan kontra tentang hal ini karena rumpon sangat diyakini efektif untuk menangkap ikan.  Konflik ini cepat atau lambat akan sampai di Indonesia, apalagi implementasi “Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF)” telah mulai dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia, di mana kegiatan proses penangkapan ikan, termasuk di dalamnya penggunaan rumpon akan diatur secara berwawasan lingkungan.

Indra Jaya mengatakan kalau tim yang dipimpinnya sangat luar biasa karena bisa memikirkan persoalan-persoalan perikanan saat ini. Mereka mencoba berkarya untuk kehidupan nelayan yang lebih dan untuk melindungi biota laut.

“Dari berbagai persoalan dan kajian masalah nelayan dalam penangkapan ikan dan tantangan masa depan, kami terus mela­ku­kan terobosan-terobosan untuk menjwab semuanya. Ide ini merupakan hal yang sangat berharga untuk masa yang akan datang,” tukasnya.

Rumpon elektronik itu sendiri, kata Indra, sebenarnya sudah dilakukan uji-coba pada 2008 lalu di Kepulauan Seribu dan hasilnya sangat memuaskan. Karena, dengan adanya bahan cahaya pada rumpon elektronik itu, ikan-ikan akan merasa nyaman saat mata mereka berinteraksi dengan cahaya.

Dibandingkan dengan rumpon tradisional yang pembuatannya bisa mencapai Rp 40 juta-an, rumpon elektronik lebih murah. Dari semua bahan-bahan yang digunakan untuk membuat rumpon elektronik hanya dibutuhkan Rp 2,5 juta saja.

Meskipun produksi pembuatannya terbilang murah dari rumpon tradisional, rumpon elektronik belum dipasarkan secara massal. Itu karena, IPB hanya bergerak dalam hal pengembangan tekhnologi, sehingga aplikasinya masih terbatas.

Karenanya, Indra Jaya terhadap semua hasil temuan-temuan tim peneliti yang dipimpinnya membuka diri kepada pihak yang hendak melakukan produksi massal. “Kalau ada persusahaan yang mau, kita akan melakukan kerjasama dengan memberitahukan cara-caranya. Dan tentunya hak ciptanya adala tim peneliti IPB,” tuturnya

Cahaya dan Suara

Efektifitas penangkapan ikan dengan menggunakan rumpon sangat tergantung pada ketertarikan ikan terhadap rumpon tersebut. Indra menjelaskan, rumpon ciptaan IPB menggunakan dua attractor atau penarik yaitu cahaya dan suara. Penggunaan dua attractor tersebut didasari hasil penelitian tentang tingkah laku ikan yang menunjukkan bahwa ada spesies ikan yang tertarik terhadap cahaya (fototaksis positif) dan ada juga ikan yang tertarik dengan suara (akustitaksis).

“Ikan yang memiliki ketertarikan terhadap intensitas cahaya dan frekuensi suara tertentu akan mendekat dan berkumpul. Berdasarkan fenomena tersebut, maka dirancang alat yang mampu membangkitkan intensitas cahaya dan frekuensi suara yang disukai oleh ikan,” terangnya.

Hasil penelitian sebelumnya tentang tingkah laku ikan menunjukkan bahwa ada spesies ikan yang tertarik terhadap cahaya (fototaksis positif) dan ada juga ikan yang tertarik dengan suara (akustitaksis). Ikan yang memiliki ketertarikan terhadap intensitas cahaya dan frekuensi suara tertentu akan mendekat dan berkumpul.

Penggunaan rumpon elektronik, lanjut Indra, sangat mudah. Alat bantu itu cukup ditenggelamkan ke dalam air laut hingga keda­la­man maksimal lima meter. “Tidak perlu lebih, karena biasanya di atas kedalaman lima meter itu cahaya berkurang atau bahkan gelap,” paparnya.

“Perkembangan selanjutnya akan menciptakan sebuah metoda penangkapan/fishing technique baru dimana aktivitas penangkapan ikan dapat dilakukan secara efektif dan efisien serta selektif. Hal ini memungkinkan karena ikan yang tertarik dengan cahaya dan suara tentunya hanya ikan-ikan jenis tertentu yang spesifik,” imbuhnya. (gsh)

Contoh Rumpon

1355211266181296756

555e37d40423bd80328b4568

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ilustrasi Rumpon elektronik Buatan IPB

BOX

Spesifikasi Rumpon Elektronik

Cahaya yang digunakan adalah cahaya mempunyai panjang gelombang tertentu yang disukai oleh ikan tertentu, dan frekuensi suara yang dibangkitkan adalah frekuensi yang disukai oleh ikan tertentu pula.  Selanjutnya, karena kinerja alat ini diharapkan dapat bekerja lebih baik dari rumpon tradisional, maka keduaatraktorini kemudian digabung dalam satu platform yang dapat diaktifkan secara bersamaan.

Invensi rumpon hibrida merupakan aplikasi sistem elektronika yang digunakan dalam penangkapan ikan yang dapat mengumpulkan ikan(attracting fish)pada suatu daerah penangkapan(catchable area). Mekanisme pengumpulan menggunakan gabungan dua atraktor yang berbeda, yaitu cahaya dan suara yang merupakan klaim utama dari invensi ini.

Attractorsuara merupakan sistem pemanggilan ikan dengan menggunakan frekuensi suara yang dibangkitkan terdiri dari frekuensi suara tunggal dan spektrum frekuensi yang dibangkitkan oleh kontroler. Frekuensi suara tunggal merupakan satuan frekuensi yang dibangkitan dan dikeluarkan secara kontinyu, dengan besaran yang disesuaikan berdasarkan target ikan yang diinginkan. Spektrum frekuensi merupakan gabungan dari beberapa frekuensi dalam satu kali pengeluaran suara, misalnya frekuensi 1-10 kHz, yang dibuat sapuan menaik (chirp).

“Daya maksimum yang dikeluarkan oleh alat ini adalah 80-100 watt denganplatform cassingkedap air yang menyatu dengan rangka. Keluaran dari atraktor suara ini diumpankan ketransduseryang terbuat dari speaker 2.5” yang pada bagian permukaannya ditutup dengan silikon rubber dengan komposisi 1:20 sehingga menimbulkan medan vibrasi yang optimal,” terang Indra.

Sedangkanattractorcahaya, jelas Indra, merupakan sistem pengumpulan ikan secara selektif dengan menggunakan cahaya suara. Atraktor cahaya yang dibangkitkan terdiri dari beberapa panjang gelombang (warna cahaya), yaitu putih, merah, biru dan hijau, dimana pilihan warna yang akan digunakan disesuaikan dengan target ikan yang dikehen­daki.

“Bahan yang digunakan sebagaiattractorcahaya adalah xenon LEDultrabrightyang memiliki daya 3-10 watt yang dapat dinyalakan secara bergantian disesuaikan dengan kebutuhan dengan sistem kontrol berbasis komputer. Pemilihan cahaya bisa dilakukan secara manual dengan perantaraan kabel penghubung,” bebernya.

Lanjut Indra, keseluruhan sistemattractorterdapat dalam satu platform yang terbuat dari campuran bahan fiber glass dan bahan PVC 8 inch. Untuk melindungi platform dari benturan kemudian dibuat pelindung dari bahanstainless steelyang dilengkapi dengan pengait pada bagian atasnya untuk menurunkan dan menaikan platform ke dalam air. “Catu daya dan keseluruhan sirkuit elektronik diletakkan di dalam platform dan dibuat kedap air.” (gsh)

Posted by: ocha_roza | 20th Feb, 2018

Pemanfaatan Rumpon Laut Sebagai Daerah Penangkapan Ikan

rumpon-aquatec-co-idBogor (Antara Megapolitan) – Rumpon laut dalam mulai diperkenalkan kepada nelayan di Kabupaten Pacitan, Propinsi Jawa Timur pada awal tahun 2005.  Kegiatan penangkapan menggunakan alat tangkap pukat cincin dan pancing ulur mulai dikenal dan berkembang pesat sejak diperkenalkannya rumpon.

Produksi hasil tangkapan yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tamperan, Kabupaten Pacitan semakin meningkat setiap tahunnya.

Jumlah rumpon yang dipasang oleh nelayan pun semakin banyak, hingga pada tahun 2014 jumlahnya sekira 250 unit.

Penggunaan rumpon dan kegiatan penangkapan yang berlebihan dikhawatirkan akan mengganggu keberlanjutan sumberdaya ikan yang ada di perairan dan pada akhirnya akan mengancam keberlanjutan usaha perikanan tangkap yang ada.

Untuk itu, sejumlah pakar dari Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perairan (PSP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian terkait penggunaan rumpon dan dampaknya terhadap keberlanjutan sumberdaya ikan.

Mereka adalah Muhamad Riyono Edi Prayitno, Domu Simbolon, Roza Yusfiandayani dan Budy Wiryawan.

Roza mengatakan rumpon atau Fish Aggregating Devices (FADs) merupakan alat bantu dalam kegiatan penangkapan ikan yang digunakan untuk mengumpulkan ikan sehingga lebih mudah untuk ditangkap.

Dikatakannya, penggunaan rumpon telah banyak memberikan manfaat bagi peningkatan produksi perikanan, akan tetapi di sisi lain penggunaannya mengakibatkan beberapa dampak negatif bagi keberlanjutan sumberdaya di perairan.

“Penggunaan rumpon dapat meningkatkan produksi per kapal ketika tekanan terhadap sumberdaya masih rendah. Namun dapat mendorong terjadinya kelebihan tangkap (over fishing) jika upaya penangkapan terlalu tinggi,” ujarnya.

Ia memaparkan kegiatan penangkapan ikan di sekitar rumpon banyak dilakukan menggunakan alat tangkap pukat cincin dan pancing ulur. Keduanya memiliki kedalaman operasi yang berbeda.
Alat tangkap pukat cincin (purse seine) lebih banyak menangkap ikan yang berukuran kecil karena kedalamannya yang rendah, sementara pancing ulur yang dioperasikan lebih dalam, mampu menangkap ikan tuna yang berukuran besar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan rumpon berdampak positif dalam meningkatkan peluang keberhasilan operasi penangkapan pukat cincin dan pancing ulur.

Berdampak negatif jika menggunakan pukat cincin karena berpeluang menangkap jenis dan ukuran ikan yang tidak layak tangkap (immature fish).

Dapat disimpulkan bahwa, penggunaan rumpon sesuai sebagai daerah penangkapan ikan pancing ulur, namun tidak sesuai sebagai daerah penangkapan ikan pukat cincin.(AT/NM)

Posted by: ocha_roza | 8th Feb, 2018

Dampak Penerapan Rumpon

rumponPeneliti dan staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB), Dr. Roza Yusfiandayani mengatakan penempatan rumpon sebagai alat bantu penangkapan ikan akan memberikan keuntungan dan kerugian. Keuntungannya adalah menghemat waktu, bahan bakar minyak (hingga 46%), menaikkan hasil tangkapan (hingga 40%) dan meningkatkan pendapatan nelayan (Rp 10-60 juta per kapal). Tapi ada kerugiannya yakni membuka peluang penangkapan ikan dalam berbagai skala sehingga menurunkan ukuran stok sumberdaya ikan.

“Saya setuju dengan tindakan pemerintah yang akan menghapuskan rumpon-rumpon yang dipasang oleh kapal asing. Setuju sekali kalau rumpon asing itu dimusnahkan. Karena ikan yang beruaya akan masuk ke rumpon tersebut (posisi rumpon asing yang lebih strategis) sehingga tidak masuk ke rumpon nelayan kecil,” ujarnya.

Dikatakannya, rumpon nelayan tradisional sebagian besar masih skala kecil. Nelayan tradisional sangat terbantu dengan adanya rumpon karena efisien dalam menangkap ikan dan menghemat bahan bakar. Jika tidak ada rumpon, maka nelayan akan mencari daerah penangkapan ikan sehingga membutuhkan bahan bakar dan waktu yang kurang efisien.

Ia melakukan riset kelayakan ekonomi terhadap pemasangan rumpon di perairan Kaur, Bengkulu. Berdasarkan analisis aspek ekonomi nelayan pancing tuna, diperoleh hasil NPV 74.825.326, Net B/C 2,77, IRR 76% dengan indikator >14% (suku bungan bank di Kaur) dan PP 1,24 dengan indikator <5 tahun. Secara ekonomi, hasil ini terbilang layak untuk dijalankan nelayan pancing.

Selain itu, perilaku dan karakteristik ikan yang ada di rumpon bisa dipelajari. Seperti kita ketahui, rumpon menjadi lokasi ikan untuk berasosiasi, mencari makan, tempat titik acuan navigasi bagi ikan-ikan tertentu untuk beruaya, tempat berlindung dari predator, tempat berteduh dan tempat stasiun pembersih bagi ikan tertentu.

“Dengan berkumpulnya ikan di rumpon, peneliti mudah untuk mengamati perilaku dan karakteristik serta memonitor ikan-ikan yang ada di lautan,” ujarnya.

Pemasangan rumpon tentu harus mengikuti aturan yang berlaku, seperti tidak mengganggu alur pelayaran, tidak dipasang pada alur laut Kepulauan Indonesia, jarak antar rumpon tidak kurang dari 10 mil laut dan tidak dipasang dengan cara pemasangan efek pagar (zig zag). (zul)

Posted by: ocha_roza | 31st Jan, 2018

Mentri Susi : Saya Bukan Ilmuan Tapi Sehari – Hari Di Laut

Mengandalkan pengalaman sehari-hari di laut, Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti mematahkan argumentasi dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor Roza Yusfiandayani yang bergelar doktor.

Keduanya berbeda pemahaman mengenai dampak penggunaan rumpon bagi lingkungan dan ekosistem laut, pada sesi tanya jawab kuliah umum Menteri Susi yang digelar di Auditorium Andi Hakim Nasution, kampus IPB Darmaga, Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan itu Roza meminta Menteri Susi mengkaji ulang pelarangan rumpon karena tak memengaruhi kerusakan ekologi. Dia mengaku intensif meneliti penggunaan rumpon sekaligus menjadikannya bahan penelitian desertasi untuk meraih gelar doktor.  Roza telah membaca belasan jurnal ilmiah tentang rumpon yang disusun para peneliti selama 25 tahun sejak 1969.

Kesimpulannya, tak ada korelasi antara dampak ekologi dengan penanaman rumpon. Dia justru berkeyakinan rumpon sangat efektif untuk mendapatkan ikan.

Susi yang terlihat serius menyimak permintaan Roza menjawab tak sepakat dengan argumentasi itu. Dia menyebut penggunaan rumpon justru sangat mempengaruhi ekologi.

Rumpon, kata Susi, bagaimanapun mempengaruhi perilaku ikan. Mereka tak berpencar ke pesisir tapi justru hanya berkumpul dan bereproduksi di sekitar rumpon. Selain berdampak secara ekologi, rumpon merugikan nelayan kecil yang tak mempunyai rumpon dan hanya melaut di jarak dekat.

Kementerian Kelautan dan Perikanan membongkar rumpon-rumpon di tengah laut yang dimiliki eks kapal asing. Sementara rumpon milik nelayan lokal belum dicabut, meski keberadaannya tetap dilarang.

Secara logika, kata Susi, rumpon atau fish aggregating devices merugikan nelayan karena mengubah ekologi perairan yang membuat ikan besar tak bisa mendekat ke pinggir atau masuk ke area di bawah 4 mil. Ikan-ikan itu hanya hidup bergerombol atau schooling di sekitar rumpon, padahal seharusnya menyebar, termasuk hingga ke pesisir. Mereka hanya berkumpul di rumpon-rumpon di tengah laut dan tidak mau ke pinggir.

Susi menunjukkan manfaat pencabutan rumpon bisa dirasakan Pengandaran, daerah kelahirannya. Nelayan mulai bisa menangkap ikan teri setelah dalam 15 tahun terakhir menghilang. “Saya bukan ilmuan, bukan peneliti, tapi saya sehari-hari hidup di laut,” kata Susi. (TG)

 

menteri-susi-1

Menteri Kelautan dan Perikanan Pudjiastuti tampak mengubah posisi duduk dari bersender di sofa, sedikit maju ke depan. Suaranya pun terdengar lebih tinggi saat menjawab pertanyaan terkait rumpon atau karang buatan dalam sesi tanya jawab kuliah umum di Institut Pertanian Bogor (IPB), Dramaga, Bogor, Kamis (13/10/2016).

Adalah Roza Yusfiandayani seorang peneliti IPB yang mengajar di Fakultas Ilmu Perikanan dan Kalautan IPB menanyakan kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terkait dilarangnya karang buatan manusia (rumpon) yang ditanam di tengah laut.

Roza yang dalam sesi perkenalannya mengaku telah 25 tahun menilti dan membaca belasan jurnal tentang rumpon mengaku tidak sepaham dengan penyataan Menteri Susi bahwa keberadaan rumpon dapat mempengaruhi ekologi ikan di laut.

“Maka dari itu bu, saya mohon dengan sangat agar kebijakan terkait pelarangan rumpon tersebut dikaji kembali,” pintanya.

Secara ilmiah ia menjelaskan, fungsi rumpon di tengah laut dianalisa sebagai tempat beristirahat ikan pada saat bermigrasi.

Menanggapi hal tersebut, Susi pun terlihat serius. Dengan suara keras melalui mikrofon, ia menegaskan terkait masalah rumpon sudah selasai. KKP akan menggelar operasi untuk memusnahkan atau mencabut rumpon-rumpon ikan yang tersebar di seluruh perairan Indonesia.

Secara logika, kata Susi, rumpon atau fish aggregating devices ini telah banyak merugikan nelayan lokal/tradisional karena mengubah ekologi perairan yang membuat ikan besar tidak bisa mendekat ke pinggir atau masuk area dibawah 4 mil. Ikan yang biasanya hidup bergerombol (schooling) seharusnya menyebar termasuk ke daerah pesisir.

Namun dengan adanya rumpon, ikan-ikan hanya berkumpul di rumpon-rumpon di tengah laut dan tidak mau ke pinggir. Susi mencontohkan, Laut Pangandaran yang saat ini sudah bersih dari rumpon. Sejak itu, dalam satu tahun terakhir nelayan sudah bisa sejahtera bahkan bisa menangkap ikan teri yang dalam 15 tahun terakhir tidak terlihat di Pangandaran.

 

“Saya bukan ilmuwan, bukan peneliti. Tapi saya hidup sehari-hari di laut,” jawab Susi.

 

Menteri Susi, juga menjawab ‘nyeleneh’ pertanyaan dari mahasiswa yang menanyakan UU kelauatan dan Perikanan yang sepengetahuanya belum ada. “Undang-undang Kelautan dan Perikanan sudah ada, coba cari di Google,” tambahnya sambil tersenyum.

Menteri Susi hadir di IPB di Kampus Dramaga, Kabupaten Bogor Jawa Barat dalam rangka memberikan kuliah umum dengan tema “Kedaulatan Perikanan Melalui Pemberantasan Ilegal, Unpreported and Unreguated Fishing“.

Kehadiran Menteri Susi menjadi magnet bagi mahasiswa IPB, ruangan kuliah umum membludak dipadati mahasiswa. Yang rela berdiri dan duduk di tangga auditorium.

Selain memberikan kuliah umum, Menteri Susi juga dijadwalkan akan menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah pihak, salah satunya MoU dengan IPB.

Rektor IPB, Prof Herry Suhardiyanto mengharapkan kuliah umum Menteri Susi dapat membagi pengalaman dalam pengembangan sektor maritim di Tanah Air.

“Kita mengharapkan pencerahan dari Bu Susi terutama dalam mengembangkan kewirausahaan di sektor perikanan,” kata Herry.

Dalam kesempatan itu, Menteri Susi hadir didampingi Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP, Zulficar Mochtar dan Staf Khusus, Fika Fawzia. Kedatangan rombongan menteri menggunakan helikopter dari Jakarta.

Posted by: ocha_roza | 30th May, 2017

Peneliti IPB Debat Menteri Susi Soal Rumpon

roza

Peneliti IPB, Roza Yusfiandayani, pengajar di Fakultas Ilmu Perikanan dan Kalautan IPB. (yopi)

BOGOR (Pos Kota) – Kuliah umum Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, Susi Pudjiastuti di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), kini diperdebatkan peneliti. Menteri Susi saat itu menjawab peneliti IPB, Roza Yusfiandayani, pengajar di Fakultas Ilmu Perikanan dan Kalautan IPB.

Roza menanyakan kebijakan KKP terkait dilarangnya karang buatan manusia (rumpon) yang ditanam di tengah laut. “Saya sudah 25 tahun melakukan penelitian, dan membaca informasi diberbagai jurnal, maka saya tidak sepaham dengan penyataan ibu Menteri Susi bahwa keberadaan rumpon dapat mempengaruhi ekologi ikan di laut. Saya mohon dengan sangat agar kebijakan terkait pelarangan rumpon tersebut dikaji kembali,”komentar Roza.

Pernyataan ini dijawab Susi dengan mengatakan, bahwa masalah rumpon sudah selasai.

KKP akan menggelar operasi untuk memusnahkan atau mencabut rumpon-rumpon ikan yang tersebar di seluruh perairan Indonesia.

Secara logika, kata Susi, rumpon atau fish aggregating devices ini telah banyak merugikan nelayan lokal atau tradisional. Kenapa?, karena mengubah ekologi perairan yang membuat ikan besar tidak bisa mendekat ke pinggir atau masuk area dibawah 4 mil laut.

Ikan yang biasanya hidup bergerombol (schooling) seharusnya menyebar termasuk ke daerah pesisir. Namun dengan adanya rumpon, ikan-ikan hanya berkumpul di rumpon-rumpon di tengah laut dan tidak mau ke pinggir.

“Saya ambil contoh di laut Pangandaran. Saya bukan ilmuwan atau peneliti apalagi profesor. Tapi saya adalah pelaku ikan. Makanya saya tahu. Saya tahu karena saya praktek langsung,”kata Susi.

Jawaban pemilik maskapaj Susi Air ini, ternyata direspon balik Roza dengan menggelar jumpa pers di ruang PSP3 kampus IPB Baranangsiang. Ia mengatakan, rumpon dapat meningkatkan pendapatan tangkapan ikan bagi nelayan. Peningkatannya bisa mencapai 40 persen.

“Bisa dapat penghasilan Rp10-60 juta/kapal. Dengan pendapatan ini, bisa tingkatkan kesejahteraan nelayan,”kata Roza.

Ia menegaskan soal rumpon ini juga sudah diatur dalam SK Mentan nomor 51/KPTS/Ik.250/1/97 yang berbunyi, rumpon adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipassng didasar laut.
“Ada rumpon di perairan Bengkulu milik orang Jakarta tapi nelayan setempat, bisa mencari ikan di situ. Keberadaan rumpon bisa menjamin kelangsungan spesies ikan. Kenapa?, karena hanya ikan dengan ukuran 100 Cm yang bisa ditangkap,”paparnya.

Saat ditanya terkait operasi pembersihan rumpon yang dilakukan KKP, Roza menunduk sebentar lalu menjawab, dirinya mendukung langkah Menteri Susi yang berniat membersihkan laut dari adanya rumpon-rumpon tersebut.

“Saya dukung kebijakan ibu menteri tapi hanya rumpon milik asing saja. Kalau rumpon milik nelayan lokal, sebaiknya jangan,”ujarnya.
Ketika ditanya lagi oleh wartawan, apakah keberadaan rumpon dapat meeusak ekologi laut, Roza yang sudah melakukan penelitian sejak tahun 2000 ini malah menjawab, dirinya belum melakukan penelitian sejauh itu.

“Apa ada dampak ekologi?, belum bisa saya jawab, karena belum lakukan penelitian,”katanya.

Saat di cecar wartawan terkait adanya perbedaan antara data yang diungkapkan Menteri Susi dengan hasil penelitiannya yang sudah berlangsung 25 tahun, Roza malah tak memberi jawaban selain hanya senyum.

Diberitakan sebelumnya, kuliah umum Menteri Susi mengambil topik “Kedaulatan Perikanan Melalui Pemberantasan Illegal, Unreported and Unregulated Fishing”.
Aksi beragam tindakan pelanggaran oleh nelayan asing ini diakui Susi, dapat mengancam kedaulatan serta membahayakan kehidupan bangsa. Menteri menegaskan, langkah-langkah yang sudah dilakukan pemerintah dinilainya telah menunjukkan hasil yang cukup memuaskan, seperti nilai Produk Domestik Bruto (PDB) sektor perikanan yang mengalami kenaikan tajam dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) yang juga mengalami kenaikan.

Susi berharap, para akademisi dapat mengkaji tentang kebijakan saat ini berdasarkan hasil riset agar dapat dijelaskan secara ilmiah dan logis. “Karena tujuan utama KKP bukan untuk memenjarakan orang namun untuk memajukan perikanan Indonesia,”ujar Susi dihadapan peserta.

Rektor IPB Prof.Dr. Herry Suhardiyanto menyampaikan bahwa dengan kekuatan sumberdaya manusia ke depannya IPB.

Rektor IPB yakin bahwa kerjasama IPB dan KKP yang sudah dijalankan selama ini akan semakin berkembang di masa akan datang untuk mewujudkan sektor perikanan yang berdaulat menyongsong kejayaan bangsa Indonesia sebagai negara maritim.
(yopi/sir)

Posted by: ocha_roza | 30th May, 2017

Menteri Susi Patahkan Argumen Doktor IPB Soal Rumpon

rumpon

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, mematahkan argumen dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor, Roza Yusfiandayani, terkait penggunaan rumpon di dunia perikanan di Indonesia. Keduanya berbeda pemahaman mengenai dampak penggunaan rumpon bagi lingkungan.

Hal itu terjadi saat sesi tanya jawab kuliah umum Menteri Susi yang diselenggarakan di Auditorium Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis 13 Oktober.

Dalam kesempatan bertanyanya, Roza meminta Susi untuk tidak melarang penggunaan rumpon karena tak memengaruhi kerusakan ekologi. “Saya mohon maaf sebelumnya Bu Menteri, kalau bisa kebijakan itu (pelarangan rumpon) dikaji ulang,” kata Roza.

Roza juga mengaku telah lama meneliti penggunaan rumpon dan menjadikannya bahan penelitian desertasi dalam memperoleh gelar doktor. Ia juga mengaku telah membaca belasan jurnal ilmiah tentang rumpon yang disusun para peneliti selama 25 tahun sejak 1969.

Menurutnya, dalam jurnal-jurnal ilmiah itu dirinya tidak menemukan korelasi antara dampak ekologi dengan penanaman rumpon. Malahan, Roza berpendapat penggunaan rumpon efektif untuk mendapatkan ikan.

Menteri Susi tampak serius menanggapi permintaan Roza. Ia mengubah posisi duduknya dari bersadar di kursi menjadi lebih ke depan dan menjawab pertanyaan Roza dengan nada yang cukup tinggi.

“Tidak bisa dibilang tidak mempengaruhi ekologi, itu pasti mempengaruhi ekologi,” tutur Susi memulai jawaban.

Penggunaan rumpon, kata Susi, jelas memperngaruhi perilaku ikan. Ikan tidak menyebar ke pesisir pantai dan hanya berkumpul serta bereproduksi di sekitaran rumpon. Hal ini membuat rumpon tidak hanya berdampak terhadap ekologi laut, namun juga merugikan nelayan-nelayan kecil yang tidak mempunyai rumpon yang hanya melaut di jarak dekat.

Saat ini Kementerian Kelautan dan Perikanan telah membongkar rumpon-rumpon milik eks kapal asing yang berada di tengah laut. Rumpon-rumpon milik nelayan lokal belum dicabut, meskipun keberadaanya tetap dilarang.

Susi mengatakan manfaat pencabutan rumpon dapat dirasakan di daerah kelahirannya di Pangandaran. Nelayan di Pangandaran mulai bisa menangkap ikan teri lagi yang selama 15 tahun terakhir tidak ditemukan.

“Saya bukan ilmuan, bukan peneliti. Tapi saya sehari-hari hidup di laut,” kata Susi yang disambut riuh tepuk tangan peserta kuliah umum.

(UWA)

Older Posts »

Categories